Sabtu, 15 Desember 2012

Makalah Tasawuf



KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbil’alamin wasyukurillah segala puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberi karunia serta berkah kepada penyusun karena telah diberikan kelancaran dan kemudahan sehingga kami sebagai penyusun dapat menyelesaikan .
Tujuan dari penyusun membuat tugas ini adalah untuk memperluas pengetahuan yang kami miliki. Penyusun juga mencoba menampilkan pada periode tersebut adanya bermacam masalah pendidikan di indonesia. Adapun kendala-kendala yang kami hadapi yaitu kurangnya materi yang kami kumpulkan.
Dalam pembuatan Tugas ini, walaupun dalam bentuk sederhana saya berusaha membuat sebaik-baiknya agar dapat di mengerti dan di pahami sehingga dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita bersama.
Penyusun menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan. Semoga tugas ini akan membantu dalam meningkatkan pengetahuan.






 Bogor,11 Agustus 2010


Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI
……………………………………………………………………… ii
BAB I   PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang .......................................................................................... 1
I.2 Maksud dan Tujuan .................................................................................. 2
I.3 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
BAB II  PEMBAHASAN
II.1 Sejarah Tasawuf ………………………………………...……………... 3        
II 2 Lahirnya Ajaran Tasawuf ……………………………………………..  4
 II.3 Sumber -Sumber Tasawuf ……………………………………………...6
II.4 Tahap -Tahap Perkembangan Tasawuf …………………………………8
II.5 Perkembangan Tasawuf di Indonesia…………………………….…….11
II.6 Perkembangan Tasawuf Pada Masa Kini ……………………………...12
II.7 Jalan Pendekatan Diri Kepada Allah ……………………………..……14
BAB III PENUTUP
            III.1 Kesimpulan ……………………………………………………………..15
            III.2 Saran ……………………………………………………………………15
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………...……...16






BAB I
PENDAHULUAN

               الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما ب عد
Istilah “sufi” atau “tasawuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafazkan zikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah ta’ala

I.1 Latar belakang
Sebelum membahas tentang hakikat tasawuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al Quran dan As Sunnah menurut apa yang dipahami salafush shalih. Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para sahabat Rasulullah saw di bawah pimpinan Ali Bin Abi Thalib ra berdasarkan perintah Rasulullah saw. Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorang pun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khawarij ini, beliau saw bersabda“…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Quran tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…” (HSR Imam Muslim).
Pada hadits di atas Beliau menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau saw menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat ra dalam beribadah (karena memang para Sahabat ra. berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa riya)

I.2 Maksud dan Tujuan
  • Agar pembaca dapat memahami isi kandungannya.
  • Agar pembaca mendapat ilmu dari tugas saya kerjakan ini.
  • Agar pembaca dapat meningkatkan ke agamaannya.
  • Agar dapat mengwujudkan pemahaman yang masuk akal.
  • Agar semua pembaca dapat mengerti apa itu tasawuf

I.3 Rumusan Masalah
  • Tentang bagaimana kegairahan komunitas Muslim terpelajar pada masa yang silam terhadap tasawuf.
  • Perkembangan tasawuf di dunia Islam.
  • Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati.
  • Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan sangat dianjurkan didalam Islam.
  • Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam.





BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Sejarah Tasawuf
1.  Abad Kesatu Dan Kedua Hijriyah
Pada abad kesatu dan kedua hijriyah disebut dengan fase zuhud (asketisme), sikap zuhud para sufi salafi merupakan awal kemunculan tasawuf, pada fase zuhud ini terdapat para sufi salafi yang lebih cenderung beribadah kepada Allah untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu. Mereka mengamalkan konsep zuhud dalam kehidupan yaitu tidak terlalu mementingkan makanan enak, pakaian mewah, harta benda melimpah, rumah megah, tahta, pangkat, jabatan dan wanita cantik, tetapi mereka lebih mementingkan beramal ibadah untuk kepentingan akhirat dengan rajin mendekatkankan diri kepada Allah, diantara 'ulama sufi salafi yang terkenal di masa itu adalah Hasan Al-Bashri (wafat pada 110 H) dan Rabi'atul Adawiyah (wafat 185 ), kedua sufi ini dijuluki sebagai zahid (orang yang sangat sederhana).
2.  Abad Ketiga Hijriyah
Dengan datangnya abad ketiga Hijriyah ini, para sufi mulai menaruh perhatiannya terhadap hal-hal yang berkenaan dengan jiwa dan tingkah laku. Perkembangan faham dan akhlaq sufi ditandai dengan upaya menegakkan akhlaq di tengah terjadinya dekadensi moral yang sedang berkembang di masa itu, sehingga di tangan para sufi tasawuf pun berkembang menjadi ilmu akhlaq. Pemberian contoh dalam kehidupan sehari-hari para sufi, akhirnya dapat mendorong kemajuan perubahan pada pola tingkah masyarakat dari yang lebih cenderung mengejar keduniaan yang membuat masyarakat di masa itu lupa pada Allah berubah menjadi masyarakat berakhlaqul karimah. Ajaran akhlaq para sufi ini menjadikan tasawuf terlihat sebagai amalan yang sangat sederhana dan mudah dipraktekkan oleh semua orang. Kesederhanaan para sufi dapat dilihat dari kesederhanaan alur pemikiran.
Tasawuf pada jalur kesederhaan ini banyak ditampilkan oleh 'ulama sfi salafi di masa itu. Mereka menampilkan ajaran tasawuf lewat akhlaq terpuji dengan maksud memahami kandungan batiniah ajaran Islam yang mereka nilai mengandung banyak anjuran untuk beraklak mulia.
            Pada abad ketiga ini terlihat perkembangan tasawuf sangat pesat, ditandai dengan adanya segolongan sufi yang mendalami inti ajaran tasawuf, sehingga didapati ada 3 inti ajaran tasawuf, yaitu:
1).  Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa, yaitu ajaran tasawuf yang berisi suatu metode
       yang lengkap tentang pengobatan jiwa. Ajaran ini mengkonsentrasikan kejiwaan
       manusia kepada Allah, sehingga ketegangan kejiwaan akibat pengaruh keduniaan
       dapat teratasi dengan sebaik-baiknya. Inti ajaran tasawuf yang satu ini menjadi dasar
       teori para psikiater zaman sekarang ini dalam mengobati pasiennya.
2).  Tasawuf yang berintikan ilmu akhlaq, yaitu di dalamnya terkandung petunjuk tentang
       cara berbuat baik dan cara menghindari keburukan. Ajaran ini lengkap dengan
       riwayat dari kasus-kasus yang pernah dialami oleh para sahabat Nabi. Dari ajaran
       inilah munculnya ilmu akhlaq.
3).  Tasawuf yang berintikan metafisika, yaitu ajaran tasawuf yang berintikan hakikat
       Tuhan. Dari ajaran inilah munculnya ilmu tauhid, ilmu aqidah, ilmu qalam dan ilmu
       filsafat.
3.  Abad Keempat Hijriyah
Abad keempat hijriyah ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dari sebelumnya, karena upaya maksimal dari 'ulama tasawuf dalam pengembangan dakwahnya masing-masing, sehingga kota Baghdad yang hanya satu-satunya kota terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf terbesar sebelumnya tersaingi oleh kota-kota besar lainnya

II.2 Lahirnya Ajaran Tasawuf
Tasawuf adalah istilah yang sama sekali tidak dikenal di zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak dikenal di zaman tiga generasi yang utama (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Ajaran ini baru muncul sesudah zaman tiga generasi ini. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun lafazh “Shufiyyah”, lafazh ini tidak dikenal di kalangan tiga generasi yang utama. Lafazh ini baru dikenal dan dibicarakan setelah tiga generasi tersebut, dan telah dinukil dari beberapa orang imam dan syaikh yang membicarakan lafazh ini, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad Darani dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri bahwasanya beliau membicarakan lafazh ini, dan ada juga yang meriwayatkan dariHasan Al Bashri” (Majmu’ Al Fatawa 11/5).
Kemudian Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ajaran ini pertama kali muncul di kota Bashrah, Iraq, yang dimulai dengan timbulnya sikap berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah yang tidak terdapat di kota-kota (islam) lainnya (Majmu’ Al Fatawa, 11/6). Berkata Imam Ibnu Al Jauzi: “Tasawuf adalah suatu aliran yang lahirnya diawali dengan sifat zuhud secara keseluruhan, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepada aliran ini mulai mencari kelonggaran dengan mendengarkan nyanyian dan melakukan tari-tarian, sehingga orang-orang awam yang cenderung kepada akhirat tertarik kepada mereka karena mereka menampakkan sifat zuhud, dan orang-orang yang cinta dunia pun tertarik kepada mereka karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain pada diri mereka. Dan berkata DR. Shabir Tha’imah dalam kitabnya Ash Shufiyyah Mu’taqadan Wa Maslakan (hal. 17) “Dan jelas sekali besarnya pengaruh gaya hidup kependetaan Nasrani -yang mereka selalu memakai pakaian wol ketika mereka berada di dalam biara-biara- pada orang-orang yang memusat kan diri pada kegiatan ajaran tasawuf ini di seluruh penjuru dunia, padahal Islam telah membebaskan dunia ini dengan tauhid, yang mana gaya hidup ini dan lainnya memberikan suatu pengaruh yang sangat jelas pada tingkah laku para pendahulu ahli tasawuf.” (Dinukil oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya Haqiqat At Tasawwuf, hal. 13). Dan berkata Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam kitab beliau At Tashawuf, Al Mansya’ wa Al Mashdar hal. 28 “Ketika kita mengamati lebih dalam ajaran-ajaran tasawuf yang dulu maupun yang sekarang dan ucapan-ucapan mereka, yang dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu maupun sekarang, kita akan melihat suatu perbedaan yang sangat jelas antara ajaran tersebut dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah. Dan sama sekali tidak pernah kita dapati bibit dan cikal bakal ajaran tasawuf ini dalam perjalanan sejarah Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau ra. yang mulia, orang-orang yang terbaik dan pilihan dari hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla, bahkan justru sebaliknya kita dapati ajaran tasawuf ini diambil dan dipungut dari kependetaan model Nasrani, dari kebrahmanaan model agama Hindu, peribadatan model Yahudi dan kezuhudan model agama Budha”.
Dari keterangan yang kami nukilkan di atas, jelaslah bahwa tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam Islam, hal ini terlihat jelas pada amalan-amalan yang dilakukan oleh orang-orang ahli tasawuf, amalan-amalan asing dan jauh dari petunjuk islam. Dan yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang ahli tasawuf zaman sekarang, yang banyak melakukan kesesatan dan kebohongan dalam agama, adapun ahli tasawuf yang terdahulu keadaan mereka masih lumayan, seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Al Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain-lain

II.3 Sumber -Sumber Tasawuf
I. Bersumber dari Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur lehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah. dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang bersifat batiniah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam. al-Qur’an dan al Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya Al-Quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahahbah) (LihatQS.Al-Maidah.5:54): perintah agar manusia senantiasa bertaubat. membersihkan diri memohon ampunan kepada Allah (Lihat QS. iahrim, 8). petunjuk bahwa manusia akan senantiasa bertemu dengan Tuhan di manapun mereka berada. (lihat QS. aI-Baqarah. 2: 110). Tuhan dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendakinya (Lihat  QS an-Nur. 35). Selanjutnya al-Qur’an rnengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia dan harta benda (Lihat QS. al-Hadid, al-Fathir, 5), dan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah SWT. (Lihat QS. Ali- lmran, 3).
2. Bersumber dari Luar Islam
        Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh adanya unsur agama masehi. unsur Yunani, unsur Hindu Budha dan unsur Persia. Hal ini secara akadernik bisa saja diterima, namun secara akidah perlu kehati-hatian. Para orientalis Barat menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk ke dalam tasawuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum Islam. bahkan banyak dikenal oleh masyarakat Arab yang kemudian masuk Islam. Akan tetapi kita dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agarna-agama tersebut, namun tidak secara otomatis mempengaruhi kehidupan tasawuf,.karena para penyusun ilmu tasawuf atau orang yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka itu. Dengan demikian adanya unsur luar Islam yang mempengaruhi tasawuf Islam itu merupakan rnasalah akademik bukan masalah akidah lslamiah. Karenanva boleh diterima dengan sikap yang sangat kritis dan obyektif. Kita mengakui bahwa Islam sebagai agama universal yang dapat bersentuhan dengan berbagai lingkungan social. Dengan sangat selektif Islam bisa beresonansi dengan berbagai unsur ajaran sufistik yang terdapat dalam berbagai ajaran tersebut. Dalam huhungan ini maka Islam termasuk ajaran tasawufnya dapat bersentuhan atau memiliki kemiripan dengan ajaran tasawuf yang berasal dari luar Islam itu.
3. Bersumber Dari Masehi
         Orang Arab sangat menyukai cata kependetaan. khususnva dalam hal latihan jiwa dan ibadah Alas dasar ini tidak mengherankan jika von Krornyer terdapat tasawuf adalah buah dan unsur  Nasrani yang terdapat pada zaman jahiliyah. Hal ini di perkuat pula oleh Ciold Ziher yang mengatakan bahwa sikap fakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari agama Nasrani. Selanjutnya Noldicker mengatakan bahwa pakaian wol kasar yang kelak digunakan para sufi sebagai lambang kesederhanaan hidup adalah merupakanpakaian yang hiasa dipakai oleh para pendeta Sedangkan Nicholson mengatakan bahwa istilah-istilah tasawuf itu berasal dan agama Nasrani, dan bahkan ada yangberpendapat bahwa aliran tasawuf berasal dari agama Nasrani.
4. Bersumber dari Yunani
           Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya telah masuk pada dunia di mana perkembangannya dimulai pada akhir Daulah Umayyah dan puncaknya path Daulah Ahbasiyah, metode berpikir filsafat Yunani mi juga telah ikut mempengaruhi pola berpikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau pada bagian uraian dimulai perkembangan tasawuf ml baru dalam taraf arnaliah (akhlak) dalam pengrruh filsafat Yunani mi maka uraianuraian tentang tasawuf itu pun telah berubah menjadi tasawuf filsafat. Hal mi dapat dilihat dan pikiran al-Farabi’, al-Kindi, Ibn Sina terutama thiam uraian mereka tentang uilsafat jiwa. Demikian juga pada uraian-uraian tasawuf dan Abu Yazid, al-Hallaj, lbn Arabi, Suhrawardi dan lain-lain sebagainya.
5. Bersumber dari Hindul Budha
         Antara tasawuf dan sistem kepercayaan agama Hindu dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir, darwisy. Al-Birawi mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan rnujahadah tasawuf dengan Hindu. Kemudian pula paham reinkamasil (perpindahan roh dan satu badan ke badan yang lain), cara kelepasan dari dunia versi Hindu Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah. Salah satu mqomat Sufiah al-Fana tampaknya ada persamaan dengan ajaran tentang Nirwana dalam agama Hindu. Goffiq Ziher mengatakan bahwa ada huhungan persarnaan antara tokoh Sidharta Gautarna dengan Ibrahim bin Adham tokoh sufi.

 II.4 Tahap -Tahap Perkembangan Tasawuf
Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat dikelompokan ke dalam beberapa tahap:
1.Tahap Zuhud (Asketisme)
Tahap awal perkembangan tasawuf dimulai pada akhir ahad ke-l H sampai kurang lebih abad ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kufah dan Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnva merupakan respon terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akibat dari perolehan kekayaan melirnpah setelah islam mengalarni perluasan wilayah ke Suriah Mesir. Mesopotamia dan Persia. Dalam islam Asketisme mempunyai pengertian khusus. Asketisme bukanlah kependetaan atau terputusnva kehidupan durnawi di mana mereka tetap bekerja dan berusaha, namun kehidupan dunia itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka. serta tidak membuat mereka rnengkari Tuhannya. .
2. Tahap Tasawuf (abad ke 3 dan 4 H)
Paruh pertama pada abad ke-3H, wacana tentang Zuhud digantikan dengan tasawuf. Ajaran para sufi tidak lagi terbatas pada amaliyah (aspek praktis), berupa penanaman akhlak. tetapi sudah masuk ke aspek teoritis (nazhari) dengan memperkenalkan konsep-konsep dan terminologi baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti, maqam, hal, rna’rifah. tauhid (dalam makna tasawuf yang khas): fana, hulul dan lain-lain.
Secara global, pada periode abad ini setidaknya ada lima karakteristik tasawuf tersebut:
Pertama, peningkatan moral. Pada dasarnya, pada abad ketiga dan keempat Hijriyah. tasawuf adalah ilmu tentang moral agama. Sebab. aspek moral tasawuf pada masa itu. berkaitan erat dengan pembahasan jiwa. klasi fikasinya. uraian kclemahannya. penvakitnva. ataupun jalan keluarnya. Dan karena dapat dikatakan bahwa tasawuf pada masa tersebut ditandat ciri-ciri psikologis. di samping ciri-ciri moral.
Kedua, pengetahuan intuitif secara langsung atau disebut marifat ini merupakan prinsip epistimologis yang membedakan tasawuf dengan filsafat. Apabila dengan flisafat yang da!arn memahami realitas seseorang menggunakan metode-metode intelektual, maka dia disebut seorang filosof. Sedangkan kalau dia menggunakan metode intuisi atau rna’rifat, maka dalam kondisi demikian dia disebut sebagai seorang sufi atau mistikus dalam pengertian yang lengkap.
Ketiga, pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak. Yang dimaksud fana ialah bahwa dengan latihan-latihan fisik dan psikis yang ditempuhnya. akhirnya seorang sufi sampai pada kondisi tertentu. di mana dia tidak lagi merasakan adanya diri atau pun keakuannva. Fana juga bisa didetinisikan sebagai ketiadaan diri di dalarn Allah, yakni menjadikan sifat-sifat baik Allah, bukan eksistensi, sebagai ganti sifat-sifat manusiawi yang rendah. Dalarn kontek ini, Imam Al-Qusyairi rnenghubungan fana berupa gugurnya sifat-sifat tercela dan baqa’ berupa kejelasan sifat-sifat terpuji. Barang siapa fana dari sifat-sifat tercela, maka yang tampak (baqa’) adalah sifat-sifat terpuji. Siapa yang fana dari kebodohannya. yang kekal adalah ilmunya. Siapa yang fana dari syahwatnya, yang kekal adalah kesadarannva. Siapa yang fana dari gejolak keinginannya, yang kekal adalah kezuhudannya. Dan siapa yang fana dari angan-angannya, yang kekal adalah kehendak baiknya.
Keempat, ketenterarnan atau kebahagiaan ini merupakan karakteristik khusus berbagai dorongan hawa nafsu, serta pembangkit keseimbangan psikis pada diri seorang sufi. Dengan sendirinya, tujuan tersebut akan membuat sang sufi terlepas dari sernua rasa takut dan merasakan ketenterarnan jiwa dan kehahagiaan dirinya pun terwujudkan.
Kelima. pernakaian simbol-sirnbol dalam rnengungkapkan hakikat realitas-realitas tasawuf Yang dimaksud dengan simbol di sini adalah ungkapan-ungkapan yang di pergunakan sufi biasanya mengandung dua pengertian. Pertama. pengertian yang digali dengan analisa dan pendalarnan. Pengertian yang kedua ini hampir sepenuhnya tetutup bagi yang bukan sufi dan sulit untuk dapat mernahami rnaksud tujuan mereka.
3. Tahap Tasawuf Moderat (abad ke 5)
Pada abad kelima hijriyah aliran taswuf moderat atau yang biasa yang dikenal dengan sunni terus tumbuh dan berkembang, sedangkan aliran yang kedua (semi-filosofis) rnulai tenggelam. Hal itu disebahkan oleh berjayanya aliran Ahli sunnah WalJama’ah. yang mana tesawuf pada era ini cenderung mengadakan pembaharuan dengan mengembalikannya ke landasan al-q’uran dan sunnah.
4. Tahap Tasawuf Falsafi (ahad ke 6 H)
Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi merupakan tokoh utama aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam aliran ini. Aliran ini kadang disebut juga dengan Irfan (Gnostisisme) karena orientasinya pada pengetahuan (ma‘rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu. Para pengkaji tasawuf filosofis, berpendapat bahwa perhatian para penganut tasawuf filosofis terutama diarahkan untuk menyusun teori-teori wujud dengan berlandaskan rasa (dzauq), yang merupakan titik tolak tasawuf mereka.
5. Tahap Tarekat (abad ke 7 H dan seterusnya)
Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnva. seperti tarekat Junaidiyvah yang didirikan oleh Ahu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu hasan lbn Muhammad Nuri (w. 295 1-1). baru pada masa-masa mi tarekat berkembang dengan pesat. Seperti tarekat Qadariyyah ( mengkaitkan tasawuf dengan aI-Qur’an dan sunnah) yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) dan .jilan ( Wilayah Iran sekaran ). Tarekat Rifa’iyyah (meliputi tentang zuhud, ma’rifat dan cinta) didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarek Suhrawadiyyah ( aturan-aturan tarekat) yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat  Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas. tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi.


II.5 Perkembangan Tasawuf Di Indonesia
Perkembangnya Islam sendiri di Indonesia yang dimulai di kota, begitu pula dengan tasawuf. Setelah itu ia baru merembet ke kawasan pinggiran atau urban, kemudian ke wilayah pedalaman dan pedesaan. Sufi-sufi awal seperti Hasan Basri dan Rabiah al-Adawiyah memulai kegiatannya di Basra, kota yang terletak di sebelah selatan Iraq yang pada abad ke-8-10 M merupakan pusat kebudayaan. Makruf al-Karqi, Junaid al-Baghdadi, dan Mansur al-Hallaj mengajarkan tasawuf di Baghdad yang merupakan pusat kekhalifatan Abbasiyah dan kota metropolitan pada abad ke-8 – 13 M. `Attar lahir dan besar di Nisyapur, yang pada abad ke-10 – 15 M merupakan pusat keagamaan, intelektual dan perdagangan terkemuka di Iran.
Rumi hidup dan mendirikan Tariqat Maulawiyah di Konya, kota penting di Anatolia pada abad ke-11 - 17 M. Hamzah Fansuri lahir dan besar di Barus, kota dagang di pantai barat Sumatra yang merupakan pelabuhan regional pada abad ke-13-17 M. Sunan Bonang, seorang dari wali sangat terkemuka, mengajarkan ilmu suluk di Tuban yang pada abad ke-14 – 17 M merupakan kota dagang besar di Jawa Timur. Syamsudin Pasai adalah penganjur tasawuf wujudiah dan pendiri madzab Martabat Tujuh yang terkenal. Dia seorang sufi dan juga perdana menteri pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) di kesultanan Aceh Darussalam.
Jika demikian halnya acara ini tepat disebut Pekan Tasawuf Kota. Sebab sebagaimana kebangkitannya pada masa awal, bangkitnya kembali gairah terhadap tasawuf di Indonesia bermula di kota besar seperti Jakarta dan Bandung pada akhir 1970an, dan terutama sekali dalam decade 1980an. Pelopornya ialah para sastrawan, seniman, sarjana ilmu agama, dan cendekiawan. Pendek kata kaum terpelajar yang tidak sedikit dari mereka adalah dokter, pengusaha, manager, sarjana ekonomi, ilmu politik, falsafah, dan scientis.
Tentang bagaimana kegairahan komunitas Muslim terpelajar pada masa yang silam terhadap tasawuf, banyak dipaparkan oleh sumber-sumber sejarah local seperti Hikayat Aceh, Sejarah Melayu, Hikayat Maulana Hasanuddin, Babad Tanah Jawa, Suluk Wujil, Hikayat Sultan Maulana, Hikayat Banjar, dan lain-lain


II.6 Perkembangan Tasawuf Pada Masa Kini
Menjelang abad XXI ini, tasawuf dituntut untuk lebih humanistik, empirik, dan fungsional. Penghayatan terhadap ajaran Islam, bukan hanya pada Tuhan, bukan hanya reaktif, tetapi aktif serta memberikan arah kepada sikap hidup manusia di dunia ini, baik berupa moral, spiritual, sosial, ekonomi, teknologi, dan sebagainya. Dan ketika tasawuf menjadi “pelarian” dari dunia yang “kasat mata” menuju dunia spiritual, bisa dikatakan sebagai reaksi dan tanggung jawab sosial, yakni kewajiban dalam melakukan tugas dan merespon terhadap masalah-masalah sosial.
Saat ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai oang yang stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan Keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan aktif dalam medan pejuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi. Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani). Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial daripada “terkungkung” dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme
.Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri, kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya terhadap Allah dan rasulnya, seperti dalam sabda rasul: ”tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain” (H.R. Ibnu Majah dari sahabat ‘Ubadah ibnu Samit), kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat, dalam sebuah kaidah, ulama’ membuat sebuah kaidah di dalam menangapi berbagai perintah Allah demi memperoleh kesempurnaan dalam menjalankanya yang berbunyi: “segala bentuk perantara yang bisa menunjang kesempurnaan suatu kewajiban maka hukumnya menjadi wajib”.
Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan sangat dianjurkan didalam Islam, serta pengamalan dari pengetahuan juga harus disesuaikan dengan kehendak Ilahi sebagai wujud yang kita yakini sebagai wujud tunggal yang menguasai segala hal di alam semesta ini. dalam mendorong umat untuk giat mencari ilmu, para ulama’ menetapkan bahwa setiap ilmu hasil ciptaan atau hasil buatan yang memang diperlukan oleh umat Islam maka hukumnya adalah fardu kifayah, seperti yang pernah dikatakan oleh al Ghozaly:” apabila ilmu dan karya yang dimiliki oleh Nonmuslim lebih baik dan lebih maju dari pada yang dimiliki oleh kaum Muslim, maka kaum muslim berdosa dan kelak mereka akan dituntut atas kelalaianya itu”. Dari serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan, kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu ibadah kepada Allah yang satu

II.7 Jalan Pendekatan Diri Kepada Allah
   Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab), dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jalan itu, yang intinya adalah penyucian diri, dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat, terutama puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Maka, seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu, terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur.
Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri, langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha, yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. kedua, yaitu zuhud. Zuhud adalah menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Pakaiannya pun sederhana. Yang ketiga tawakkal, tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan menerima dengan senang hati. Di sini telah dekat sekali dengan Tuhan dan sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. Di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. 


BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan 
Istilah tasawuf hingga kini masih menjadi perdebatan. Ada yang menyebutkan ia berasal dari istilah Ahlussuffah yakni fakir miskin yang bertempat tinggal di masjid Nabi Muhammad Saw. Ada pula yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari istilah as Shafa yang artinya bersih. Atau, ada yang menganggap bahwa tasawuf diambil dari julukan orang orang yang memakai baju shuf (wool), karena waktu itu orang orang yang mengasingkan diri dari kehidupan dunia untuk menyembah khaliq-Nya memakai baju yang dibikin dari wool kambing. Tidak pernah ada sepakat mengenai asal usul kata tasawuf ini karena saking sulit dan spesifiknya definisi di abad modern ini tentulah amat berat dibanding menjadi sufi jaman dulu. Dulu, tantangan untuk berperilaku saleh mungkin hanya sebatas apa yang dekat di sekitar kita. Bandingkan dengan saat ini yang tidak hanya godaan di lingkungan sekitar namun secara manifes telah menampakkan tak berjarak di depan kelopak mata tv, radio, internet, mtv, dan budaya massa merupakan sebagian contoh dari godaan godaan itu. Tentunya komparasi tantangan dulu dan sekarang dapat dijadikan cerminan bagaimana menyusun strategi adaptif untuk meminimalisasi hawa nafsu yang cenderung merujuk pada ego manusia.
Al hamdulillah, penulisan makalah yang berjudul "Perkembangan tasawwuf di Indonesia" ini bisa tersusun, ini semua berkat pertolongan Allah dan bantuan beberapa ikhwan yang ikut berusaha dalam penyusunannya. Namun kami yakin bahwa makalah ini masih sangat banyak kekurangannya, terutama dalam referensinya. Maka saran dan kritik yang bisa meningkatkan mutu makalah ini kami sangat harapkan dari para pembaca. Semoga menjadi amal yang sholeh dan diridhoi Allah Ta'ala. Amin.

III.2 Saran
 Dengan demikian bahwa apapun yang kita peroleh dari dunia, hal itu tidak menjadikan kita diombang ambing oleh dunia. Bukan menampik kenikmatan dunia, melainkan kita tidak dikendalikan oleh dunia. Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern mengatakan bahwa sufi sufi modern bukan berarti tidak boleh kaya namun hendaknya kekayaan itu tidak menjadi belenggu dan lantas menghalangi kita mengabdi pada-Nya.
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah untuk semua ummat dan segala zaman, oleh karena itu relevansi agama Islam dengan perkembangan zaman harus selalu dapat diupayakan melalui amaliah nyata dan penafsiran yang kontekstual terhadap ajaran tersebut setidaknya hal tersebut tampil menjadi perhatian semua orang tentang fleksibilitas dan universalitasnya.
Hal ini tanpa terkecuali, termasuk aspek tasawuf yang menjadi bagian dari disiplin kajian ilmu-ilmu Islam, baik dalam hal teori maupun prakteknya, baik yang dilaksanakan di dunia muslim ataupun oleh mereka yang berdiam di dunia non muslim.



                                                         DAFTAR PUSTAKA

  • DR. Sri Mulyati (Dosen Pasca Sarjana UIN Jakarta).
  • http://gustiramli.com/.
  • digg, Facebook, Twitter, del.icio.us, StumbleUpon, reddit.
  • http://godlas.myweb.uga.edu/Sufism.html .
  • Al Qur'an al karim.
  • Majalah Gatra, 30 September 2000 M.
  • Majalah As Sunnah ,Edisi 17/Th.ke-2.
  • Hartono Ahmad Jaiz, Tasawwuf Belitan Iblis, Cet. Ke-3 1422 H/2001 M, Darul Falah.
  • Koran Republika, 28 April 2001 M, nomor 110 tahun ke-9.
  • Al Jihad wal Ijtihad, Umar bin Mahmud abu Umar, Cet Pertama 1419 H/1999 M, Darul Bayariq.
  • Al Ihya Ulumuddin, Jilid IV : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Prof. TK. H. Ismail Yakub SH. MA, CV Faisan, Jakarta, Indonesia
  • Minhajul Abidin : Imam Al Ghazaly, terjemahan : Meniti Jalan Menuju Surga, M. Adib Bisri, Pustaka Amani, Jakarta, Indonesia.
  • Tao Of Islam : Sachiko Murata, Mizan, Bandung, Indonesia.
  • Jalan Ruhani : Said Hawwa, Mizan, Bandung, Indonesia.
  • Kajian Islam : Zamzam Ahmad Jamaluddin, drs. MSc, Yayasan Islam Paramartha, Bandung, Indonesia.


 









 








Tidak ada komentar: